2013

For my future remembrance, for remembering and reminiscing the times in 2013, dan juga demi Anda pembaca blog ini – yang mungkin ga banyak, gw akan coba menuangkan tahun 2013 versi gw di sini.

Seringkali proses dan hasil mengingat-ingat perjalanan setahun ke belakang akan lebih tertitikberatkan pada waktu akhir-akhir. Seperti penulisan buku Steve Jobs oleh Walter Isaacson, lebih detil dan banyak di bagian akhir hidup Jobs. Seperti review orang-orang seusai menonton sebuah film, pasti lebih banyak komentarnya pada endingnya dan pada bagian klimaks sebelum ending. Ini merupakan fenomena unik yang menurut pendapat pribadi gw, ada 2 hal penyebabnya.

Pertama, akan lebih mudah mengingat hal atau peristiwa yang baru terjadi karena masih fresh. Kedua, kalau seseorang tidak berusaha mengingat suatu momen dalam hidupnya, kemungkinan lupa akan lebih tinggi. Makanya, sering kita baca atau dengar seorang pemimpin event besar berkata, “mari kita renungkan sejenak, tanamkan dalam hati dan pikiran kita, bahwa kita pernah berada di sini.” Praktik seperti ini lah yang perlu lebih rajin kita terapkan untuk benar-benar meluangkan tempat khusus dalam ingatan kita akan hal dan momen penting dalam hidup.

2013 menurut versi tulisan gw ini mungkin gak detil dan terurut secara pasti. Banyak hal yang mungkin gw lupakan ketika menulis ini, atau ada beberapa yang sengaja tidak gw tulis. Nevertheless, yang gw tuliskan di sini adalah 2013 yang akan dan ingin gw ingat lagi ketika gw membaca lagi tulisan ini kelak.

2013 in general is a year in which gw mencoret sebagian besar wishlist gw walaupun gw sendiri ga menuliskan apa saja wishlist gw di awal tahun 2013. Oke, lebih baik gw coba cerita langsung aja.

1. Perbaikan paras. Warisan dari 2012 hingga 2013 awal itu gw kembali berjerawat, cukup epic. Seinget gw, gw di 2012 tengah sudah cukup mulus hasil dari berobat ke dokter yang menghabiskan cukup banyak uang untuk laser treatment. Karena sudah merasa mulus itu, gw jadi ga ke dokter lagi. Tapi lalu 2012 akhir, jerawat mulai muncul lagi dan kebawa sampai 2013. Di awal 2013, gw memutuskan untuk ke dokter lagi, dengan anjuran dari Pak Ronald, guru sekolah gw, akhirnya gw berobat ke dokter baru lagi, dengan harapan biaya akan lebih murah. Ternyata lebih mahal. Ditambah lagi, gw yang semakin sadar dan melek akan obat, kemudian mengetahui bahwa salah satu obat oral anti acne yang diresepkan itu ternyata efek negatifnya banyak. Jadilah gw menghentikan pengobatan ke dokter kulit konvensional. Lalu, perbaikan parasnya gimana? Ya. Gw menemukan satu metode sangat mujarab, tanpa obat yang bisa menghilangkan tuntas semua jerawat akut di muka gw. Akupunktur. Sejak tengah 2013, gw sangat rajin akupunktur ke dokter Fanty, semua jerawat di muka gw ditusuk jarum, lalu kata dokternya sih hormon gw juga dirangsang supaya lebih stabil, pencernaan gw juga dirangsang supaya lebih baik sekresi limbah dalam tubuh. Efek yang langsung terasa itu boker gw lebih lancar, sehari bisa 2 bahkan 3 kali sejak rutin diterapi. Selain itu, jerawat gw pun berangsur-angsur hilang dan benar-benar gak balik lagi, ga muncul lagi. Terima kasih klinik tongfang.

2. Vromtu. Di 2013 ini gw dan teman-teman berhasil merilis kembali Vromtu terutama di bagian hutang gw untuk rilis versi iOS nya. Vromtu ini kayak anak bayi kita dari 2010 gitu, digodok-godok, baru 2013 gitu mulai merangkak. Tapi sekarang juga website nya lagi off karena habis. Semua anggota pencetus dan pencipta Vromtu sendiri sangat sibuk. Tapi sebenernya at the back of our mind, Vromtu ini masih mendiami lubuk hati terdalam. 2014, kita gencarkan lagi.

3. Tamasya 2013. Di awal tahun, Januari 2013, gw pertama kalinya tamasya naik kereta api. Tujuannya ke Malang untuk menghadiri resepsi pernikahan teman Informatika 2006 sambil sebelumnya Bromo Trip dulu. Exciting sih, naik kereta sama teman-teman, main kartu, ketawa-ketiwi ga jelas. Bromo trip nya juga lumayan kece, walaupun ga dapet view sunrise di pananjakan.

Tengah tahun, ada Gili Trip. Kembali dengan teman-teman, untuk pertama kalinya, gw ke Gili. Dimulai dengan penerbangan dari Jakarta ke Lombok. Setelahnya dilanjutkan dengan perjalanan boat ke Gili Trawangan. Gili ini cukup unik, ga ada kendaraan bermotor di pulaunya. Kita nginep di 2 tempat. Tapi yang keinget cuma Villa Almariknya doang yang epic. Terus di Gili ini juga gw pertama kalinya nyoba snorkeling dan diving. Seru juga sih, pemandangan bawah lautnya juga kece abis. Satu lagi tempat memorable di Gili ini yang namanya Scally Wags. Makan seafood barbecue yang enak dan epic.

Ketiga, Japan Trip. Trip ke Jepang ini udah direncanakan sama Stanley sejak Desember 2012. Di Januari kita mulai memantapkan plan, di Februari kalo ga salah gw mulai beli tiket pesawat. Japan Trip ini sangat epic. Mungkin jadi pengalaman paling wow di tahun 2013 ini. Dengan kebaikan hati David, gw sama Stanley di Tokyo nginep di kosan David. Diajak jalan-jalan sama David ke Disney Sea, Ageha, Ramen Museum, belanja denim, makan di restoran Kill Bill, makan ramen dan tsukemen paling enak dalam hidup gw, Onsen di Yokohama, gila-gilaan di tengah jalan di Roppongi, di Shibuya, ketawa-ketawa ga jelas, seolah-olah kita lawless. Lanjut ke Kyoto lihat kuil-kuil epic, lanjut ke Kobe makan Kobe beef yang sangat juicy and tender, terakhir ke Osaka, jalan ke Universal Studio dan Namba. EPIC.

Keempat, Jogja Trip sama kantor. Seru nih, nginep di Cangkringan, terus main ke Goa Pindul dan liat Borobudur Sunrise yang mahal gila. Trip ke Jogja biasanya keliling-keliling di kota doang, tapi kali ini nyoba yang baru-baru juga.

4. Day Job. Di 2013 ini rasanya milestone kerjaan di BP banyak ngumpul di paruh tahun kedua. Akhirnya gw beres dan lulus dari Challenge Program. Beberapa activity dan project juga diselesaikan di menjelang penghujung tahun. Setelah lulus Challenge Program gw pindah role yang serba baru dan gw harus belajar lagi semua dari awal. Seru. Lalu di akhir tahun juga gw ditugaskan di Papua yang akan berlangsung terus di 2014 juga. Satu project yang pengen gw share di sini tentang Visualization Room Project. Satu ruangan meeting biasa, diubah jadi satu ruangan dengan layar LED beresolusi tinggi dengan ukuran 140 inch. Keren. Susah dan pelik prosesnya, bahkan di instalasi dan finalisasinya juga banyak banget kendala. Tapi untungnya member tim dan senior-senior gw sangat murah hati dan ringan tangan. Gw belajar banyak banget.

5. Work outside Day Job. Aktivitas di luar Day Job sebenernya ga banyak, tapi seru dan challenging. The Board sama David, sama Bochi sama RGB. Pas ngegarap masing-masingnya, rasanya meluap-luap gitu excitement nya. Dua-dua nya unik, dua-dua nya seru, dua-dua nya bareng temen-temen yang sakti maut. Belum banyak yang bisa gw ceritain sekarang. Yang pasti, seru.

6. Death. Di Desember 2013, dua orang yang signifikan dalam hidup gw meninggal dunia. Pertama Pak Ronald Iskandar, guru gw lagi SMA. Beliau mengajar Bahasa Inggris, mengajarkan cara belajar Inggris dengan rumus-rumus scientific. Guru yang sangat epic. Mengajarkan banyak ilmu hidup juga. Secara teknis, beliau bukan guru di sekolah, tapi gw belajar les di luar sekolah sama beliau. Kebetulan rumahnya deket juga dengan rumah gw. Satu quote dari dia yang keren: “Learning English is like learning physics. You can tell if a person is good at English if he’s good at physics.” – karena menurut beliau, tidak hanya Inggris, tapi belajar bahasa itu intinya hanya vocabulary dan grammar. Vocabulary itu mau tidak mau harus dihapalkan, sedangkan grammar itu pola dan rumusnya bisa diturunkan secara ilmiah, layaknya fisika. Rest In Peace, Pak Ronald.

Kedua, Kaisar. Kaisar Siregar. Teman kuliah di Informatika 2006. Dia merupakah salah satu teman terdekat gw di kuliah. Gw seperjuangan dalam tim lomba dengan dia. Gw jadi doyan nonton serial karena diracunin dia. Dia sering banget ngajak jalan, ngajak nonton, ngajak main. Orangnya pinter banget, rajin walaupun moody, dan dia sekarang udah ga ada. Sedih banget rasanya. Semua temen-temen IF juga berduka banget. Kayanya dia selalu juara atau menang dalam hidupnya. Di kamarnya ada poster bertuliskan “Ical Si Jago Matematika”. Jadi dia sangat ambisius dan ga pengen kalah dari siapa pun. Di perlombaan dan di permainan. Salah satu momen yang gw inget banget tuh dia ngomong, “Gw ga bisa kalo ga liat pesaing kita presentasi penjurian. Gw harus tau kalau pesaing kita itu menang dari kita, gw harus tau gw kalah sama siapa, dan kalau pesaing kita ga lebih bagus dari kita, gw akan lebih yakin dan mantap untuk menang.” Such an arrogant guy, but we won, eventually. Setelah dia pergi ke Belanda juga dia tetap memenangkan beberapa lagi award dan perlombaan kancah dunia. Keren. Gw akan selalu inget gelak tawa kita, gw akan selalu senang dan bangga kalau inget gimana kita menghina-hina orang lain dan membangga-banggakan diri sendiri, gw akan selalu pegang motivasi dan janji gw ke lo, Cal. Rest In Peace, Kaisar.

All in all, mungkin banyak lagi hal-hal yang minute dan spesifik yang ga ketulis. Banyak yang sengaja gw hilangkan atau ga tulis dengan detil seperti patahnya rekor gw gak sakit dan harus ke dokter / rumah sakit sejak 2010 karena di ujung 2013 gw sakit telinga dan backspasm akut.

2013 adalah tahun yang keren dan EPIC. 2014 gw akan buat yang lebih epic lagi.

Advertisements

Post Melalui iPhone

Ketika gw nulis blog ini, gw lagi berada dalam ketidakberuntungan. Macbook gue mati. Gw bawa charger sih, cuma lokasi gw duduk di Starbucks BIP ini agak jauh dari power point dan 2 orang yang duduk deket power point itu nampak membujur kaku menatap iPadnya dan yang satunya melongo ngeliatin cewe cantik yang duduk di seberang gw. Nope, no pic. Sorry.

Jadi gw mau nyobain deh ngeblog dari iPhone susahnya kaya apa. Langsung buka Clear, liat list ide-ide blog, nemu topik yang ringan, buka aloysiusadrian.com dari WordPress app dan.. ga bisa! Penasaran, gw akses lewat Safari, ga bisa juga! Gw curiga hostingnya lagi trouble, gw cek ganesia.com yang sama host nya, ga bisa juga! Oke sip. Hopeless. Sempet gagu juga mau cabut atau tetep di sini, tapi ngeliat Jalan Merdeka penuh parah dan jam menunjukkan tanda bakal macet, gw stay dan terpikir melanjutkan ide ngeblog lewat iPhone. Ke blog yang ini.

Ya, Macbook gw warna hitam ini memang sudah berumur. Beli awal 2008. Kalau Macbook ini survive sampe April 2013, 5 tahun sudah umurnya. Gw juga agak ga nyangka sih bisa sebagus ini ketika awal beli. Tapi umur ga bisa bohong. Tidak pada manusia dan tidak pada elektronik. Bagian battery nya Macbook gw ini sudah menggembung, penyakit kronis yang umum ditemukan berdasarkan hasil searching di internet. Tapi hebatnya, walaupun secara fisik keliatan defect, battery lifenya masih tembus 5 jam! Pemakaian normal sih, koding dan browsing.

Kira-kira udah setaun sih battery ini menggembung dan akhir-akhir ini, Macbook gw suka mati mendadak. Di kondisi 65% an, suka jepret aja mati atau di 30% an. Itu juga yang terjadi barusan ini. Gak beruntung.

Setelah ngetik sepanjang ini, lewat iPhone, saatnya kita post tulisan ini.

Selamat Hari Natal 2012!

UK Trip

Jadi kemarin tanggal 5-8 November 2012, gw dapet kesempatan untuk pergi ke Inggris, United Kingdom, tepatnya ke daerah London dan sekitarnya.

Tujuan utamanya adalah meeting dengan rekan-rekan seperjuangan dari beberapa negara lainnya. Alasan diadakan di sini adalah karena di London dan sekitarnya ini ada kantor pusat dari perusahaan tempat gw kerja dan kebeneran tanggal 5 November itu juga sedang diadakan event final dari kompetisi Technofest. Jadi, ya pas aja gitu.

Di blog ini mungkin gw akan cerita dikit tentang pengalaman-pengalaman seru dan unik yang mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kamu semua yang baca blog post ini. Silakan kalau hendak bertanya dan berkomentar, tapi mohon jangan bully aku. auuuu

1. Proses pembuatan visa Inggris.
Untuk pemegang paspor Indonesia, pembuatan visa Inggris sebetulnya cukup mudah. Pengalaman pertama gw bikin visa adalah untuk buat visa Schengen pas mau ke Polandia taun 2010 lalu. Waktu itu kita (saya, beserta teman-teman lainnya) datang langsung ke kedubes Polandia, bawa persyaratan-persyaratannya, kasihin, bayar, tunggu, jadi. Kebetulan untuk pembuatan visa Inggris, kedubes Inggris tuh punya kerja sama dengan biro swasta namanya VFS kalo ga salah, yang bantuin proses permohonan pembuatan visa Inggris. Jadi kemarin itu untuk buat visa Inggris, gw siapin paspor (beserta paspor lama). Katanya kalau udah pernah dapet visa US atau Schengen atau Australia bisa lebih cepat. Lalu isi formulirnya online, setelah selesai isi, print dan bawa ke VFS, lalu fotokopi Kartu Keluarga, dan fotokopi buku tabungan. Di VFS sendiri ada kios foto. Gw dateng ke sana, foto bayar 45ribu. Memang mahal, tapi hasilnya sudah sesuai kriteria foto pemohon visa Inggris. Ya sudahlah ya, daripada salah. Penyerahan kelengkapan permohonan sih gw dibantu sama agen dari kantor. Lanjut ke pengambilan data biometris, sidik jari, retina mata, dan foto wajah. Sudah itu gw pulang ke kantor dan dalam 2 hari paspor sudah dikembalikan dengan tambahan stiker visa Inggris 🙂

2. Perjalanan Menuju dan Pulang dari Inggris
Naik pesawat. Yoi. Naik odong-odong ga akan nyampe. Gw naik maskapai Emirates, dan diijinin naik business class. Perjalanannya connecting flight, harus transit di Dubai. Jadi dari Jakarta ke Dubai dulu, 8 jam. Lanjut dari Dubai ke London 8 jam lagi. Tapi ga kerasa sih, ya mungkin karena dapetnya kursi yang bisa full reclining sampe tidur jadi bisa tidur nyenyak. Gw berangkat hari Sabtu, 3 November, nyampe 4 November di London. Terus pulangnya hari Jumat tanggal 9 November, nyampe Jakarta 10 November. Terbang dengan business class tentu saja banyak banget enaknya. Ga enaknya juga ada sih 1. Di Jakarta, ternyata ada tempat check-in khusus business & first class. Gue dengan begonya nungguin berjam-jam di counter sampai gilirannya hanya untuk diberitahu kalau checkin business class di counter yang berbeda. Setelah checkin, nunggu di lounge, makanan buffet, koneksi internet, tapi biasa aja sih yang di Jakarta. Yang di Dubai keren, gede banget lounge khusus buat Emirates nya satu lantai sendiri. Apalagi lounge yang di Heathrow London, lebih ajib lagi. Makan minum nya level saudagar. Masuk ke gate pesawat juga merupakan eksklusivitas sendiri. Yang business dan first class dipanggil duluan, suruh boarding duluan. Ada jalur khususnya gitu. Yang agak kasian pas balik dari Dubai mau ke Jakarta. Gw agak telat masuk gate dan yang boarding untuk Business dan First ternyata udah duluan, jadi keburu ngantri panjang banget yang lain. Untungnya ada pramugarinya nolongin gw buat nyelonong duluan ke depan antrean. Begitu masuk pesawat, langsung menuju bangku masing-masing, gw celingak celinguk ke atas nyari angka kursi gw ternyata adanya di bawah, pas di kursinya. Bego. Si pramugari yang cantik-cantik itu (kebanyakan timur tengah dan eropa timur gitu) kayanya ngeliat lalu ngebantuin gw. Jaket gw dilipetin sama dia gitu. Gw tinggal duduk manis aja. Terus langsung disuguhin sampanye. Haus sih, jadi ga nolak. Selama perjalanan juga makan minum cukup terjamin, terjamin enak. Terus langit2 kabin pesawatnya dibuat kaya langit banyak bintang gitu. Adem banget suasananya.

3. Ketibaan di London Heathrow
Ini kali kedua gw memijakkan kaki ke Heathrow. Dulu taun 2010, gw ke Polandia transit dulu di Heathrow, cuma dulu kaga keluar airport, sekarang keluar. Ternyata lagi badai jek di situ. Ujannya cukup parah, kaya Bandung dan Jakarta sekarang-sekarang gini yang bisa bikin banjir. Ujan di London juga sama aja air, bikin basah. Bedanya, di situ kemarin dingin banget. Dinginnya serius. Suhu terdingin yang pernah gw rasain itu pas kaderisasi di vila merah, sama pas mengkader di vila merah. *ada cerita khusus di vila merah ini, subuh-subuh, auuu* tapi di London itu super banget dinginnya. Jaket tebel yang gw bawa dari Indonesia ada di koper lagi.. gw keluar cuma pake kaos tipis…… cuaca seinget gw kisaran 0 dan 1 derajat celcius kalo malem, kalo siang 7 sampe 9 derajat. Fuuuuu…! Lalu lanjut nyari taksi, antri di bawah guyuran air hujan, lalu menuju hotel. Ongkosnya 100 poundsterling. Seharga sebulan ongkos kosan di Jakarta. Fuuuuuu…!

4. Jalan-Jalan di London dan sekitarnya.
Simplenya sih naik taksi, tapi mengingat harganya sangat mahal.. ada opsi yang murah, jalan kaki. Bisa juga dicampur naik underground / ground train. Di London disebutnya Tube. Jadi mostly gw pas mau jalan, pas mau berangkat ke kantor ya pake tube ini. Konsepnya sama aja kaya di Singapore gitu, pake kartu yang namanya Oyster card. Kita beli di station, langsung di isi, tinggal pake. Peta tube nya sendiri gw donlot iOS app nya di hotel, terus cari tau aja kita mau kemana dari Maps, di Maps app juga ada kok Tube station terdekat dari tujuan kita pake apa. Hmm.. Vromtu bisa nih.. auuuu

5. Hotel
Gw nginep di kawasan Richmond, di luar London, di Richmond Hill Hotel. Hotelnya sih bintang 4, tapi sempit banget jek. Lantai juga bukan dari concrete. Orang jalan di lorong kedengeran gedebuk2 gitu. Liftnya setengah lift Labtek V. Super sempit. Cuma muat 1 orang + 1 koper atau 2 orang tanpa koper. Keran air di wastafel kepisah 2. Panas dan dingin. Jadi gw ga bisa nyampur tuh air jadi air anget. Adanya air panas banget atau air dingin banget. Beruntung ada gelas, jadi bisa gw campur dulu kalo gw mau cuci tangan. Boker juga menjadi momok sendiri. Pas cebok, ya pake tissue gitu. Kering-kering bikin lecet gitu deh, Jenderal! Yang bikin keselnya lagi adalah, di malam hari pertama gw nginep, ada fire alarm nyala subuh-subuh (waktu setempat). Gw masih kondisi jetlag, lagi tidur, dingin banget, alarm hotel bunyi berisik banget. Tai. Awalnya gw pikir itu alarm iPhone gw. Tapi kok ga berenti-berenti.. biasanya gw diemin alarm iPhone setelah 1 menit berhenti, ini terus aja bunyi. Barulah gw sadar bahwa itu fire alarm. Dengan gontai, gw keluar. Dari dalam, keliatan ada mobil pemadam api di pelataran parkir hotel. Banyak juga tamu2 hotel pake piyama di luar gitu. Gw keluar, shit! Dingin banget! Gw baru nyadar, gw cuma pake celana pendek. Lari lagi lah gw ke kamar, ganti celana panjang dulu terus keluar lagi. Ga nyampe 3 menit di luar, udah disuruh masuk lagi. Teganya si abang…

6. Pemandangan
Jadi, dari Richmond Hill itu, bisa keliatanlah yang namanya Sungai Thames yang sohor itu. Gw foto-fotolah di situ. Dingin banget, anginnya kenceng, angin beku gitu deh. Ngeluarin kamera aja beku jari2 gw. Hasil fotonya gw jadiin cover Path gw, gw tambahin tulisan GRATITUDE (pake app yang namanya Over). Pemandangan kota London juga indah sih. Keren. Ya gw jalan-jalan ke Big Ben, foto-foto, yang hasilnya dijadiin mangsa si Wastu. Terus ke London Eye, sempet naik juga nih ke London Eye, abis 300ribu rupiah. Terus ke Westminster Abbey, pemakaman orang-orang luar biasa, sebangsa Isaac Newton, Handell, Shakespeare, dan merupakan tempat pelantikan raja/ratu Inggris. Tempatnya menurut gw tempat paling keren selama gw ke UK ini. Sayangnya gw boleh foto-foto di dalem. Masuk bayar 25 Pounds, dapet alat penerangannya gitu, electronic guide. Ya udah dengerin deh sambil muter-muter liat isinya si Abbey ini. Pemandangan lain yang pengen gw bahas di sini adalah pemandangan wanita nya. Cewe-cewe Inggris ini cantik-cantik. Pink. Hebatnya lagi, di tengah cuaca super dingin gini, style fashion mereka mostly adalah pakai skirt di atas lutut, stocking tipis, boots. Keren. Tapi gw ga kebayang aja dinginnya itu cuma pake stocking gitu. Intinya sih tetep aja cewe sana emang cantik-cantik 🙂

7. Makanan
Makanan yang sering dijumpai untuk sarapan adalah bacon dan beans. Scrambled egg dan roti-rotian juga. Juice, salad, buah. Makan siang, sandwich aja dimana-mana. Malem, ga tau deh, kayanya gitu-gitu juga. Sekali gw makan siang di Marks & Spencer, yang ternyata kalo di Inggris ada yang bagian makanannya juga. Makan ribs gitu, enak sih. Terus minumnya hot chocolate. Sumpah, enak banget hot chocolatenya. Sumpah. Makan malem ikan bakar gitu, tulisannya grilled fish. Dateng-dateng ikan sepotong, mateng sih, tapi ga keliatan dibakar. Beda banget ama ikan bakar sini yang kaya akan rempah-rempah dan kecap. Yang ini hambar aja gitu. Ga enak. Senin sampe kamis sih makan siang di kantor. Enak sih, bisa bebas milih, di name tagnya dikasih credit 5 pounds gitu, kita ambil makan minum, terus bayar pake name tagnya. Malemnya jalan sama rekan-rekan cari makan gitu. Makan Thai, India, gitu-gitu aja sih. Mahal, ga terlalu enak.

8. Minuman
Abis makan ya minum dong. Yoiiii.. Rekan-rekan kantor gw yang seperjuangan sama gw ini emang seru abis. Tiap malem mereka ngajak ke bar. Minumnya juga sampe banyak banget. Ya gw ngikut2 aja sih, nyobain bir dari berbagai negara. Baru tau gw ada bir apa gitu namanya dog dog gitu, 40%, hitam, kentel, pahit banget. Tapi anehnya si rekan-rekan gw ini pada suka. Shit. Anyway, ngebir malem-malem, sama westerners, share jokes, di London, dingin-dingin anget, top!

9. Lingkungan
Orang-orang Inggris sebenernya gw liat polite-polite. Dikit-dikit bilang sorry. Orang lewat dari arah berlawanan gitu, terus mau lewat samping gw, bilang sorry. Nunggu pintu Tube kebuka, gw nunggu di kirinya, ada bule di kanannya. Kita nunggu orang dalem keluar dulu. Pas udah pada keluar, gw mau masuk, pas barengan gitu sama si bule. Si bule bilang sorry. Ya udah aja gw like a bos masuk ke tube. Keliatan juga orang-orang yang polite, rapi, itu beda banget dengan anak-anak punk ga jelas gitu. Ya walaupun ga banyak, tapi ada lah beberapa, penampilannya agak ga jelas gitu, terus duduk seenaknya, tapi ya mereka ga ngegangguin gimana gitu. Ya jadi yang gw liat sih orang-orang Inggris itu emang polite tapi individualis.

10. Foto
Nanti gw update blognya dengan foto-foto.

Segitu aja sih yang bisa gw tulis di sini. Udah banyak banget rasanya. Enak juga nulis blog pake IA Writer gini. Fokus. Ga kerasa udah ngetik banyak aja. Cape ngoding, nulis blog. Auuu

Kalo mau nanya-nanya, komen, silahkan. Jangan bully aku aja plis..

Magnificent 2011, Wondrous 2012

30 Desember 2011. Hari kedua terakhir di 2011 ini, and here I am, writing this. Mungkin di post ini gw mau cerita dikit tentang taun ini, dan terawangan taun 2012.

Di tengah bulan Desember ini, gw sempet diingetin sama satu orang teman, “inget gak lo, kira-kira hari-hari gini taun lalu kita lagi nyari kosan bareng di Jakarta..” — time does fly fast. Waktu ngobrol gitu sih gw ya menanggapi dengan canda dan sedikit mengingat-ngingat doang ketika gw nyari kosan bareng-bareng sama 3 orang teman. Sekarang yang 1 udah sakses ke Finlandia. Konkrit, ga kaya gw yang cuma bisa bacot pengen sekolah lagi di luar negeri tapi tanpa aksi. Yang satu udah sakses juga di perusahaan multinasional di bilangan Senayan Jakarta. Yang satunya, yang ngingetin gw itu, udah sakses punya venture bidang perhandphonean, nulis buku, dan jadi sepiker di pelbagai ajang teknologi. Gue, ngendon di pojok kamar, nulis ginian kaga jelas.

Kemarin ini juga gw ngobrol sama bokap seputar topik yang sama. Gw memulai dengan bilang, “Pap, hari-hari gini taun lalu Adri lagi bolak-balik ke Jakarta nih, wawancara, nyari kosan..” Dan bokap pun bilang, “iya, ya, waktu cepet banget”. Indeed.

Dan pikiran ini juga yang memenuhi pikiran gw di suatu pagi ketika gw sedang masuk kamar meditasi. Taun lalu, 2010, gw bolak-balik Jakarta Bandung, wawancara sini situ, jalan nyari kosan. Masuk kumpeni VO, terus ngapain aja ya? Turns out, it relates back to Jobs’ quote “when we look back, it’s like connecting the dots”. Pengalaman gw bolak-balik Jakarta-Bandung naik travel, berusaha cari travel sedeket mungkin dengan tujuan kantor tempat wawancara itu akan berubah jadi satu bekal hidup yang berguna buat gw. Pengalaman lain, pengalaman wawancara sana-sini, ngadepin head hunter, ngadepin pertanyaan-pertanyaan maut, pertanyaan-pertanyaan yang mungkin jawabannya bisa jadi satu whitepaper sendiri, dan pengalaman pasang muka dan pede tingkat ga tau malu itu ternyata bisa jadi pengalaman berharga juga. Pengalaman yang bisa gw share ke beberapa temen yang pernah ngobrol-ngobrol minta tips-tips wawancara. Gw seneng banget bisa share pengalaman gw, serta tips-tips yang gw dapet juga dari temen-temen lain ke orang lain. Bukannya gw jadi menggurui, tapi sharing ilmu itu memang asik.

Di kumpeni tempat gw cari makan ini sekarang juga gw banyak belajar dari temen-temen sepantaran di sini tentang pengalaman mereka kerja sebelumnya, atau pengalaman mereka masuk kumpeni ini, dan bahkan ngorek2 info juga dari HR tentang tips-tips nyari kerja, atau tipe-tipe orang kaya gimana yang disukai kumpeni. Well, walau mungkin belum ketauan gunanya buat apa, but I strongly believe that these things will be beneficiary for me and others.

Now I want to share a bit more about things I’ve been through in the company I work for. Gw sendiri lupa-lupa inget apakah gw pernah sharing tentang ini di posts sebelumnya atau belum. Mungkin juga ini post pertama gw tentang apa aja yang gw lalui selama satu tahun kurang 5 hari gw kerja di company ini. Well, not that I have been secretive, tapi gw menghindari aja gw curhat atau nulis info-info yang gak seharusnya gw tulis. Mungkin sharing ini juga bukan ke arah kerjaan, tapi apa yang gw telah lalui. Ok. Ini juga berhubungan dengan pertanyaan simple nan pelik dari salah seorang teman IF06 di grup Facebook seputar pengalaman selama satu tahun jebol dari akademisi Strata 1.

Gw belajar tentang people. People management, people credibility, people relation, people communication, dan lika-liku sosialisasi di dalam sebuah company. Agak kaget sih gw, begitu lulus dari universitas dengan idealisme sendiri lalu terjun ke tempat yang semuanya serba strategic. Strategic di sini dalam artian harus serba dipikirkan dengan mantep. Ga bisa asal ngomong teriak A B, nanti orang lain akan memandang kita macem-macem. Ada yang respek, disrespek, jadi ngejauh dari kita, jadi makin deket sama kita, macem-macem. Gw juga belajar cara pandang strategic dalam memutuskan semua hal. Gw gak kepikir aja anak baru kemarin lulus, lalu ngeliat gimana proses brainstorming, proses risk analysis, proses cost management, dan segala macem bala-bala dan tahu goreng yang terjadi di setiap hari di kumpeni ini. Mesmerizing. Mungkin ini juga yang harusnya gw syukuri gw bisa dapet pengalaman berharga kaya gini. Ya gw bukan tipe orang yang suka kegiatan clerical atau rutin berulang-ulang. Jadi hal-hal seperti ini menarik buat gw.

Gw belajar time management yang tetep aja gw belum bisa terapkan dengan baik, terbukti dengan banyak plan gw yang terbengkalai dan seringkali harus dipingit lagi serpihan-serpihan yang ketinggalan. (Maaf kalo banyak kode tersirat di sini 😛 )

Gw belajar giving better presentation. I love delivering presentation. I can say I am passionate about it. Di sini juga gw belajar banyak banget tips-tips tentang giving presentation, dan juga gw punya banyak kesempatan liat langsung orang-orang hebat di kumpeni dalam ngasih presentasi. Dari yang full slide oriented, sampe totally impromptu presentation. These whole experiences have really been insightful for me. Gw baru tau ada yang namanya The Art of Answering Questions. Have you?

Dari segelintir pengalaman yang gw tulis di atas, sekali lagi sih gw pengen coba menyadari diri gw sendiri, kembali lagi gw pengen nulis dan mengekspresikan di sini, I should have been more grateful….

Ok, satu tahun kerja nih. So, what’s next? Ini juga pertanyaan yang dilontarkan temen yang itu lagi itu lagi, dalam pertanyaan yang gak gw edit, “jadi, kapan keluar, Loy?” 🙂

Di 2012, gw masih melihat diri gw ada di kumpeni ini karena gw udah diiming-imingi kegiatan yang gw liat sangat exciting buat gw jalani. Godaan paling besar datang dari seorang teman ketika makan siang bersama di sebuah kedai soto daging di bilangan JakSel. “Kalo ga sekarang, ntar udah ketuaan, udah makin susah kalo mau S2 keluar..” — well, true that. Gw gak bisa menyanggah statement itu, dan gw ga bisa juga mengiyakan statement itu. (Red. temen gw ini udah admitted di Netherland buat mid 2012 admission, salute!)

2012 mungkin akan jadi tahun yang biasa-biasa aja buat gw. Tapi mungkin gw akan mengisinya dengan hal-hal yang super exciting, I’m gonna try at least two big things I’ve been planning about and dreaming about. Pasti yang baca ini pada mikir, satu pasti ini.. satu lagi apa ya..? Atau bisa juga udah ketebak dua-duanya gw mau ngapain, tapi gw gak akan bilang-bilang ah. Ntar takut ga jadi, makin aja gw keliatan cuma bacot doang.

Gw inget, di blog ini juga pernah gw nulis tentang resolusi taun baru. Maybe I’ll write about it, maybe I don’t. Even if I wrote about it, maybe I’m not posting about it here.

Untuk konklusinya, gw udah nulis beberapa experience gw, kalo temen-temen stalker out there ngebaca post ini di sela-sela 9gaging activity lo, dan ingin tahu lebih banyak, bisa ngobrol langsung sama ane, I’d be glad to.

2012, please be wondrous!

#RememberingJobs

The post is kind of a tribute from me to Steve Jobs. I try to spill things out just as I came across of it. Here it is.

 

My first encounter with Apple product was in around 2004. My brother and I bought an iPod video with 30GB capacity after seeing a friend’s iPod. My first impression holding it was like holding my first Playstation – a superb game console. The iPod mesmerized both of us. Interacting using a scrolling wheel was a joy. At that time, video player devices were not common. Very few mobile phones had that feature, therefore having a video player device as iPod video was a stunning experience. We put many magic videos in it, video clips, and music of course. We would share using it after school; we would admire it almost every time we were using it. I still remember the cool UI of iTunes, compared to WinAmp and Jukebox back then.

NewImage

Many new kinds of iPod came along, but we never bought any of them. We felt that our iPod video was already a top product that we had bought, so it would still survive the revolution. That is also one of the traits of Apple Product. They evolve, they change, but sometimes the changes were subtle. iPod video to iPod classic is an example. We could still carry our iPod without feeling left out.

Second encounter after iPod video was when I bought my one and only Macbook Black in 2008. It was the last of its kind prior to the all new unibody Macs. Facts: I bought Mac, thanks to @abumarlo. He “encouraged” me to buy it by giving a damn hot demo of MacOSX. One of the best decisions/investments in my life.

I wrote my thesis in it, I write programmes and applications using it, I did my assignments, watch movies, serials, listen to music using my Mac. I created many beautiful slidepacks using Keynote – the best there is. I presented my thesis using my Mac, presented at many exhibitions, created my resume using it.

NewImage

You can understand, the moment you come across an Apple product, that something is really different about them. The feel, the experience, the details. Everything. Until now, I have always influence people to use Apple product. Even only to touch them to get the feel. I am kind of an evangelist. But I want to let other know what I experienced. Maybe I would have been like this if I had been there using Apple II, at its time..

 

Then iPhone and iPad came. Maybe I will write about them, maybe I won’t. I am now writing about Steve Jobs.

Steve Jobs to me was, IS,  my only role model. Some friends mentioned about this, that I was too obsessed with him, but I digress. The moment I watched Steve Jobs presentation in iPhone launch back in 2007, I was starstruck.

I started to read things about him, watch his videos in youtube, articles, quotes, his fashion, almost anything. They were all so fascinating. The more I look, the more it got interesting. His marketing strategy, his vision, his stubbornness, his quotes, his presentations. Yes. His presentations were, I don’t know what word to put, brilliant.

I started looking of what made his presentations looked amazing. His style. His slides. His pronunciation. His moving his arms. Anything. I read presentationzen, I explored slideshare, and many other things.

I copied -copy- his style, I delivered many of my presentations just like he did. I copied his slide style. Here’s one of examples.

Screen Shot 2011 10 10 at 10 06 40 PM

I rehearsed many many times before all of my presentations, just because I read that Jobs rehearsed his keynotes many many times, word by word, until he could present like he did. So did I. And they paid off.


Many more stories about Jobs’ influence on me, in my life. I could go on, but I am keeping them to myself. Now that Jobs can only be seen in videos, articles, books. It is sad. I could not think of any other man who have such persona. Maybe if I had followed stories about Henry Ford or Walt Disney, I could. But I did not. To me, personally, it was kind of disappointing to know that your role model is not there anymore. You could not hear any more great news from him. You could only recall him from written matters. That’s disappointing. It just is.


Written using MarsEdit 3.3.4 on my Macbook Black running OSX Lion 10.7.1