Latihan Jari

Udah lama banget ga main gitar. Kebetulan si adik baru merombak salah satu ruangan di rumah menjadi studio amatir dan beginilah sedikit showcase jari-jari cupu dan suara serak seadanya. KKEB.

Advertisements

Home Brewing Coffee Using Blue Bottle Dripper

Ahh, it’s been so long since I last writing a blog post. In fact, I also forgot my login that I had to resort to email login. Good thing WordPress has that feature now.

Anyway, I just want to post a simple one now. Actually it’s more of a video. Not really a tutorial video because there’s no talking or any written information in the video, rather it’s a video of me and Bill doing coffee brewing. Here it goes. Let me know what you think and if you may, please like the video and subscribe to my Youtube Channel.

SODA

Ulasan Tugas Akhir S1 dari dosen pembimbingku 🙂 circa Oct 2010

Yani's Weblog

Aloysius (2006) mengkaji SODA (Service Oriented Development of Application). SODA adalah metode untuk membangun aplikasi berorientasi service. Fokus utamanya adalah bagaimana menambah proses bisnis baru pada aplikasi yang sudah ada sebelumnya tanpa harus mengotak-atik aplikasi lama tersebut. Proses bisnis yang diimplementasikan dengan berorientasi service ini, kemudian dapat dihubungkan dengan mudah dengan aplikasi baru. Proses bisnis baru ini tidak harus dibangun pada platform yang sama dengan aplikasi sebelumnya. Itulah kekuatan arsitektur berorientasi service. Aplikasi juga dapat memanfaatkan service yang sudah ada sebelumnya dengan mudah. Dengan sifatnya yang loose-coupling, kegagalan mengakses service lain tidak akan berpengaruh terhadap jalannya aplikasi…

Aloysius, dalam TA-nya, mengusulkan tahapan SODA serta arsitektur aplikasi yang menerapkan metode ini. Kemudian, dilakukan studi kasus dengan memodifikasi aplikasi Mosaic. Mosaic adalah aplikasi pemantau potensi terjadinya pandemik flu. Familiar dengan aplikasi ini ? Ya, ini adalah aplikasi yang memenangkan Imagine Cup Indonesia 2010 hasil kreasi Aloysius dkk (Puja…

View original post 13 more words

Borneo Trip

Dengan semangat “indahnya berbagi” (cliche, I know), gue akan coba share catatan perjalanan gue ke Tanjung Puting dan Derawan pada bulan Mei 2015 kemarin. Kedua tujuan wisata ini ada di Kalimantan (Borneo), tapi keduanya sangat berjauhan. Tidak ada direct flight antar keduanya.

You won’t find any story whatsoever in this post. I’ll just note some highlights, some recommendation, and put some contact information for you to help you plan and book your trip. Gue gak ada intensi untuk tulis cerita atau trip report atau kronologis trip ini. You should go and bask in the whole beauties yourself. Afterall, the best moments in life don’t make it to the internet. Bam.

Tanjung Puting

Salah satu trip yang sangat nyaman, sangat indah, sangat gue rekomendasikan. Biaya sendiri all in sekitar 2 jutaan per orang untuk 3 hari 2 malam termasuk makan dan biaya masuk ke konservasi orang utan. IMO, Trip yang paling pas timingnya 3 hari 2 malam. Ada yang 4D 3N, tapi bisa jadi terlalu lama. 2 malam sudah lebih dari cukup. Be prepared with insect repellent, you’re dwelling in a forest if you forget.

Contact person: Ari / Indra – 085651202195

My recommendation:

  • Minta guide nya dengan Mas Pi E (Mas Meing), he was super fun.
  • Kalau punya, bawa kamera dengan lensa tele untuk foto orang utan dan penghuni hutan lainnya di sini. Mereka sering nya gantung di pohon yang jauh gitu.
  • Mandi di kapal pakai air sungai. Ga usah terlalu dipikirin, nikmati aja. Sejuk, seger, asoi. Sikat gigi pakai air botol sih gue 🙂
  • The sunset here is truly mesmerizing. You must have seen sunset at beaches, cliffs, skytowers, whatever. This one is a different joy to feast your eyes. Sunset at the far, orange cloud on the skies, you on the boat on the exotic river, in the middle of the forests to both your sides. Picture perfect.
  • Ask for dinner under fireflies, you’re welcome.

Berau

Ga terlalu banyak yang bisa dilakukan dan dilihat di Berau. Bisa kunjungi Kampung Dayak, ga terlalu jauh. Travelling here is so hipster, but worth it.

My recommendation, stay at Rumah Kedaung (081350624830 – Ibu Martina, the owner). Very homy and reasonable price – around 300K/night. Ibu Martina nya sangat ramah dan suka cerita. Jadi dapat banyak info dari beliau.

Biduk-Biduk –> Labuan Cermin

If you ever wonder, if Labuan Cermin would be worth it, don’t. Just go. You’ll be blown. SUPER EPIC. Untuk menuju Labuan Cermin, start dari Berau. Dari Berau ke Biduk-biduk itu 5 jam perjalanan dengan mobil. Charter mobil range nya 1.5 juta per hari (nego aja bisa lebih murah), kalau travel reguler, bisa 200-250ribu sekali jalan per orang.

Di bawah ada beberapa driver yang bisa dikontak untuk bandingkan harga. FYI, apakah harus nginap di area Biduk-biduk? Silakan, tapi gue sih ngga. Pergi jam 5.30 pagi dari Berau, jam 3 sore berangkat balik dari Biduk-Biduk. Pulang pergi total 10 jam perjalanan. Tapi puas. Selesai dari Labuan Cermin sebelum pulang bisa mampir ke Tanjung Sulaiman, selewat aja cukup.

My recommendation: bawa air minum, bawa baju ganti, handuk, masker renang, pakai sunscreen.

Contact person:

  • Kasim – 085336377779
  • Kris – 081347194262

Derawan

Dari Berau pergi ke Tanjung Batu, kota yang isinya hanya pelabuhan kecil tempat speedboat berada untuk menyebrang ke Kepulauan Derawan. Pintu gerbangnya. Dari Berau ke Tanjung Batu bisa menggunakan fasilitas charter mobil atau travel reguler biasa. Kontaknya sama saja orang di atas. Untuk reguler, perginya gue sama Pak Kasim. 150K untuk tarif reguler. Lebih baik berangkat pagi dari Berau. Sekitar 2 jam perjalanan.

Banyak sekali cerita dan foto-foto tentang Derawan. Google is your friend. Singkatnya, Derawan itu sebetulnya nama sebuah pulau. Tapi kalau orang bilang tur ke Derawan, biasanya mengacu pada island hopping nya, seperti Labuan Bajo dengan pulau-pulau sekitarnya. Anggap Pulau Derawan itu base camp nya. Banyak restoran juga di sini. Kalau paket tour, biasanya menginap di Pulau Derawan, lalu akan ada island hopping by speedboat to Kakaban and Sangalaki. Biasanya harga yang ditawarin pas di Tanjung Batu untuk keliling ke 3 pulau itu bisa 500-800 ribu sehari. Jadi kalau pagi dari Berau, bisa langsung keliling ke tiga pulau. Satu speedboat bisa diisi 5 orang.

Anyway, ada 2 pulau lagi yang lebih jauh yaitu Maratua dan Nabuco, bakal lebih tinggi harga speedboatnya sekitar 1.5 juta (nego aja, gue dapet 1.4 sampe Nabucco paling jauh), tapi lebih keren. And they are my recommendation. Di Maratua juga ada beberapa penginapan. Tapi saran gue kalau ada rejeki lebih, nginap di Maratua Paradise Resort. Hitungan biayanya agak unik, per orang/malam. Bukan per kamar/malam. Ada 2 tipe kamar, beach chalet (660K) dan water villa (990K). Go for the water villa. Udah jauh-jauh sampe Maratua, might as well enjoy it to the fullest. Next recommendation, Nabucco. Again, kalau ada rejeki lebih, stay lah di Nabucco. A totally different experience, than Maratua. Maratua lebih gede, lebih banyak orang, bagus airnya. Nabucco, OTOH, lebih sepi, lebih private, lebih pampering. Pricing nya juga mirip kaya Maratua Paradise, 990K/person/night.

My recommendation:

  • Kakaban itu sangat indah. Pergilah berkunjung sepagi mungkin. Berenang ke arah kiri menjauhi laut. Bawa kamera underwater dan snorkel mask tanpa fin. Bawa air minum.
  • Di Derawan, nginap di Leni homestay, baru dibangun, bahkan masih belum selesai, masih ekspansi.
  • Menginap di Nabucco dan Maratua sudah termasuk makan. Tapi di Nabucco, silakan bawa air minum botol dari Derawan deh 🙂
  • Meal di Maratua itu parasmanan gitu, lumayan enak. Meal di Nabucco itu sangat memuaskan. Full course, enak, good presentation, the ambience is perfect. Try the cheese pancake for breakfast. When you bite the cheese, the cheese bites back. I wish you could feel what I was feeling.
  • Di Derawan, bisa ke Gusung untuk sunset. Not 100% impressive, but the sunset is worth visiting.
  • Best sunset could possibly be in Maratua Paradise Resort sih. Go for the furthest deck in the water villa.

Contact person:

  • Leni Homestay Derawan (Pak Ibnu) 250K/night (AC, ensuite) – 085247776031
  • Maratua Paradise Resort – 081253868807 (Arief); 085247130987 (Erwin)
  • Nabucco Resort (Pak Alfons – he’s so nice) – 081350205134
  • Speedboat untuk island hopping – Pak Razak – 082250421518 ; 081347169048

I would highly recommend Pak Razak as your travel companion in Derawan. Dia punya speedboat. Orangnya asik, well connected dengan locals, tepat waktu, harganya sangat reasonable. Dia bisa atur juga travel dari Tanjung Batu kembali ke Berau dengan harga yang lebih murah (100K) dari harga travel Berau – Tanjung Batu (150K). Untuk travel Berau – Tanjung Batu mungkin bisa kontak ke Pak Razak juga untuk minta diaturkan. Trust me, lewat dia bisa lebih murah.

Kira-kira begitu catatan perjalanan gue. Data ini per bulan Mei 2015 ya, sangat mungkin sudah berubah ketika Anda membacanya.

Last note, kalau gue harus pilih, highlight trip nya Nabucco ❤ ; dinner under starry skies and fireflies ❤ ; the travel companion and the conversation ❤

Pentingnya Memahami Kesehatan Tubuh Sendiri

Setelah beberapa orang berkomentar yang kurang lebih sama – kapan update tulisan lagi di blog ini – mari kita simak posting tahun 2015 ini 🙂

Seperti yang bisa dipahami sekilas dari judulnya, mungkin post ini akan berisi banyak seputar kesehatan. Mungkin banyak orang menganggap kesehatan diri sendiri itu adalah hal yang bersifat personal dan privat – tidak perlu orang lain tahu – tapi saya berniat membagikan informasi mengenai kesehatan tubuh yang saya alami sendiri dengan tujuan agar orang lain yang memiliki masalah serupa, atau punya kenalan yang mengalami sakit atau kelainan serupa mendapatkan pencerahan.

Kesehatan tubuh, jasmani, kebugaran raga, itu sangat penting. Kalau Anda sakit, batuk atau pilek misalnya, tentu akan berpengaruh pada kinerja sehari-hari. Kalau sakit sakit, seperti demam, batuk, pilek, keseleo, mungkin sudah cukup sering dijumpai, dan sepertinya hampir semua orang tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana cara mengobatinya, bagaimana cara menyembuhkannya.

Gangguan kesehatan tubuh yang pernah saya alami hingga sekarang cukup tidak umum. Saya pernah mengalami asam urat yang cukup tinggi. Gangguan punggung yang cukup parah, dan juga saya sempat mengidap muka berjerawat yang sangat parah. Ketiganya akan saya bahas di sini.

1. Asam Urat. Menurut ilmu medis, angka normal adalah 6. Pada tahun 2013, indeks asam urat saya adalah 9. Sangat tinggi. Efek samping yang saya rasakan adalah ketika saya mengepalkan tangan kiri saya dan membuka kepalan tangan, responnya lambat. Tangan saya terasa sangat pegal ketika melakukannya. Anda dapat cari sendiri informasi di internet mengenai efek samping asam urat atau uric acid untuk lebih jelasnya termasuk cara menanganinya.

Yang saya lakukan: saya sangat membatasi asupan sayur hijau dan seafood. Saya juga berpantang minum yang beralkohol selama 14 bulan. Sesekali ketika saya merasa agak pegal-pegal di daerah tangan, saya minum obat asam urat yang generik bernama alopurinol.

Hasilnya: setelah satu tahun saya mengontrol makan dan minum, angka asam urat saya turun ke 5,8. Masih masuk dalam indeks normal.

2. Gangguan Punggung, Backspasm. Saya sempat menulis derita sakit punggung saya ini di beberapa postingan sebelumnya. Gangguan punggung ini saya alami di penghujung tahun 2013 silam dan sakitnya berlangsung selama hampir 1 tahun lebih. Berbagai metode penyembuhan sudah saya coba lakukan, namun tidak berhasil menyembuhkan penyakit yang saya alami. Pada akhir 2014 saya akhirnya menemukan penyembuhan yang cukup ampuh yang saya lakukan masih hingga sekarang.

Penyebab: salah posisi mengangkat barang yang berat. Jika Anda mengangkat barang dari bawah, pastikan posisi punggung tidak melengkung. Pertahankan punggung yang tegap, tekuk lutut dan berdiri. Akibat salah posisi ketika mengangkat barang berat itu fatal, seperti yang saya alami. Pada saat sakit yang paling parah, bahkan untuk bangun dari tempat tidur atau dari berdiri mau duduk saja saya merasakan sakit yang sangat parah.

Pengobatan yang sudah saya lakukan namun tidak manjur: pertama kali saya memutuskan untuk memeriksakan ke dokter di RS terkemuka di Bandung. Pemeriksaan yang dilakukan cukup menyeluruh. Secara fisiologis dan rontgen. Menurut dokter, tidak ada yang salah dengan saraf tulang belakang saya. Hal ini cukup melegakan, karena menurut info yang saya dapatkan, kalau saraf tulang belakang yang kena, dampaknya lebih parah. Yang saya alami adalah semacam “salah urat” atau keseleo otot punggung. Menurut dokter saya harus menjalani fisioterapi. Saya lakukan fisioterapi hingga 10x lebih. Hasilnya, setiap sepulang dari fisioterapi memang saya merasa lebih nyaman dan ringan, namun dalam beberapa hari setelahnya saya merasakan sakit kembali lagi. Jelas-jelas fisioterapi tidak berhasil menyembuhkan sakit saya. Berikutnya, saya mendapat referensi totok atau akupresur. Saya coba lakukan, memang lebih enak rasanya dibandingkan fisioterapi. Setelah totok, kurang lebih bertahan hingga satu bulan sebelum akhirnya saya rasakan sakit kembali. Saya ulangi hingga 3x, tapi tetap tidak sembuh total. Pengobatan berikutnya yang saya coba adalah tusuk jarum, atau akupunktur. Sudah saya coba 3x juga, tapi tetap tidak menyembuhkan sakit punggung yang saya alami.

Pengobatan yang berhasil menyembuhkan: akhirnya saya berkonsultasi dengan salah satu gym trainer di tempat saya olahraga rutin. Melalui beliau, saya mendapat referensi tukang pijat urut yang pernah dia coba juga. Kebetulan dia pernah sakit punggung serupa dengan saya dan menurutnya dia sudah sembuh secara total. Saya pun tergerak dan segera mendatangi tempat prakteknya. Dan benar saja, pertama berobat saya langsung merasakah perubahan yang signifikan. Sakit punggung hilang. Namun karena saya kurang berhati-hati, dan mungkin juga karena ototnya sudah terlalu lama berada dalam posisi salah, si otot punggung kembali melenceng dan terasa sakit kembali setelah beberapa minggu. Kembali saya berobat pada tukang urut, dan seketika itu pula otot punggung kembali pulih. Pengobatan ini sudah saya ulangi sekitar 5 kali dan hingga sekarang, otot punggung saya sudah dapat dikatakan 85% pulih sempurna.

3. Jerawat. Ini adalah penyakit yang sangat umum ditemukan dan sepertinya banyak yang punya kisah sukses menghilangkan jerawatnya. Saya dari ABG sampai kuliah tingkat 1 sebetulnya tidak jerawatan. Baru di kuliah tingkat 1 itu, saya mengalami cacar air, dan sejak saat itu juga kok rasanya jerawat mulai bermunculan. Bisa jadi karena jaringan kulit saya ikut rusak akibat cacar air sehingga saya lebih mudah terkena jerawat. Atau bisa juga karena gaya hidup masa kuliah yang kurang sehat menyebabkan saya berjerawat. Penyebab utama jerawat banyak dijelaskan di internet. Namun yang saya alami sendiri, penyebab utama jerawat adalah pola hidup. Ketika kuliah dan saya mulai berjerawat itu, saya rasa disebabkan karena pola tidur yang tidak baik. Sering begadang, kadang tidur hanya sebentar saja. Selain itu saya juga malas membersihkan wajah. Lalu pola makan. Banyak makan gorengan, coklat, kacang, itu juga berbahaya. Selain itu kondisi psikis yang mungkin agak kewalahan karena banyak tugas dan pelajaran, belum lagi masalah romantika, ya begitulah kira-kira yang mungkin mendorong tumbuhnya acne itu.

Pengobatan yang saya tempuh: Ada beberapa kali saya pindah dokter kulit untuk menerima pengobatan secara medis. Ada yang hanya sekali dua kali saja berobat, ada yang berbulan-bulan dan bertahun-tahun juga. Pada intinya, yang dilakukan secara medis adalah memberi perawatan secara eksternal pada kulit wajah, dengan salep atau krem muka (anti UV dan anti acne) dan juga secara internal dengan suntikan pada wajah dan obat minum. Suntikan pada wajah ini sifatnya sangat instan. Pagi hari disuntik, sore hari jerawat hilang. Luar biasa. Obat minum ada 2, satu antibiotik range luas, satu lagi obat yang merangsang kelenjar hormon kita sehingga tidak memproduksi minyak ke wajah. Obat inilah yang berbahaya karena sangat keras. Bahkan menurut artikel yang saya baca, obat ini (accutane) sudah dilarang di beberapa negara luar. Hasil dari saya berobat ke dokter kulit memang terasa. Jerawat saya berangsur hilang. Nah ketika sudah hilang, tentu saja saya merasa tidak perlu lagi ke dokter. Ketika itu juga, mulai tumbuh lagi si jerawat-jerawat nya.

Pengobatan yang ampuh buat saya: setelah berkali-kali ke dokter dan hasilnya sama saja, setelah menghabiskan biaya yang cukup besar untuk berobat ke dokter seperti ini, saya mencoba pengobatan alternatif, yaitu dengan tusuk jarum atau akupunktur. Proses pengobatan akupunktur ini adalah dengan merangsang jaringan kulit di wajah agar proses perbaikan jaringan lebih cepat, pencernaan kita dilancarkan, dan memberikan rangsangan pada hormon agar stabil. Jadi setiap tusuk jarum, saya ditusuk di area wajah, perut (pencernaan), di belakang telinga dan kaki (stabilisasi hormon). Tanpa minum obat, tanpa disuntik. Setelah menjalani pengobatan secara rutin dan berkala selama 4-5 bulan, jerawat saya tidak kembali lagi. Hingga sekarang. Jadi, bagi Anda yang masih belum berhasil membasmi jerawat, mungkin tusuk jarum bisa menjadi pilihan juga.

Demikian postingan yang cukup panjang ini, semoga bermanfaat!

Kalau ada pertanyaan, silakan lewat komentar saja ya.

About Things I’m Currently Passionate About

Since I can’t recall when (maybe 2012), I have been passionate about things made out of natural and organic matter. Let me elaborate.

Initially, I was never really fond of specific things organic. Organic such as leather and woods to be more specific. It all started back in 2012 when I sort of made-purchased my leather shoes. I fell in love immediately after that. From footwear, the lust crept in to belt, wallet, and other accessories. Bought another leather boots 6 months after that and another one in within 6 months.

Lately, I was really into leather craft. Yes, I am learning to make leather crafts using the traditional tools that have been used for decades. Some of the things I crafted can be seen in my Instagram account.

And then, other than leather, wooden goods kind of roped me in, too. I recently bought a sunglasses made out of rosewood which is very nicely crafted by the great people of Yogyakarta.

Onto the most recent ones that drove me to write this post. Field Notes.

What is Field Notes?

If you’ve heard of Moleskine, welcome to the general hipster world. Now, Field Notes is more hipster than Moleskine. You can read all about it in their website.

So yeah, I placed my Field Notes Annual COLORS SUBSCRIPTION. And Field Notes Shelterwood Edition made me do this. Its cover is made out of cherry wood which was a love at first sight for me. The price is also quite reasonable for a very wellcrafted good like that. I’m really really eager to get the package which is still on its way to Bandung as I type this. For the time being, all I can do is sit tight, read some of the seasoned reviews on the web such as these below.

Image

http://pensandpencilsandpaper.blogspot.sg/2012/11/the-field-notes-colors-subscription.html

http://www.thenewsprint.co/blog/-on-my-desk-field-notes-shelterwood-edition

http://www.yippeecahier.net/blog/?author=531a110ce4b0fe51941713fc&&

http://www.ephemeralpursuits.com/fieldnotes.html

Last link, as I was scouring the reviews above, I came across this beautiful chair which is deemed to be the best and classic chair of all time. Swag.

http://store.hermanmiller.com/Products/Eames-Lounge-Chair-and-Ottoman