Well, kemarin rasanya sempet janji mau nulis blog lagi. Tentang satu tahunan perjalanan menjadi orang. Ya, *orang*.
Definisi *orang* menurut orang-orang adalah ketika seseorang dianggap dewasa, lepas dari ketergantungan orang lain, dapat berkarya sendiri dan dapat menghidupi diri sendiri.
**23 Oktober 2010** adalah hari kelulusanku dari perguruan tinggi. Hari wisudaku. Jargon yang menjadi andalan pada setiap wisuda pada institut tempatku menimba ilmu adalah “Today is yours“. Iya sih, ketika 23 Oktober 2010 itu memang terasa nyata, bahwa hari itu adalah hari milikku. Hari kemenanganku. Hari ketika aku menjadi *orang*. Tapi bagaimana dengan 23 Oktober – 23 Oktober lainnya? 2011, 2012,…
Satu tahun sudah berlalu. Kalau aku tidak membaca salah satu tweet temanku, mungkin aku sendiri tidak ingat. Jika aku tidak membaca salah satu blog post temanku yang lain, mungkin aku sendiri tidak akan terlalu bernostalgi apalagi bergundah hingga menulis blog kali ini. Tapi sesungguhnya, pertanyaan itu seketika itu juga muncul di benakku, “eh, iya nih, sudah setahun..” dan kemudian disusul dengan pertanyaan maut, “gue udah bikin apa ya?”
Perjalananku selama satu tahun itu diwarnai beberapa aktivitas yang jujur saja tidak terlalu berapi-api, tidak seperti satu tahun sebelumnya dari 23 Oktober 2009 hingga 23 Oktober 2010. Beberapa kejadian yang mungkin menarik terjadi selama satu tahun aku diwisuda antara lain adalah kegagalanku dan timku untuk memenangkan Imagine Cup 2011. Agak menarik juga ketika aku menuliskan tentang itu di sini. Rasanya tidak terlalu penting untuk diingat, tapi kok rasanya justru hal ini yang pertama kali muncul di benakku. Mungkin karena kegagalan itu juga aku lebih mengerti arti kebersamaan. Rasanya mengecewakan orang lain dan rasanya ingin menyalahkan keadaan.
Hidup sendiri jauh dari keluarga mungkin baru kali ini aku alami dengan demikian patuh. Bekerja di Jakarta merupakan pengalaman keduaku, tapi kali ini, aku benar-benar hidup sendiri. Tanpa ada teman ngobrol. Aku masih ingat, ketika dua bulan awal, aku terkadang masih rindu rumah. Ya sampai sekarang juga aku tetap rindu rumah, tapi rasanya kok awal-awal itu selalu terbayang-bayang setiap aku menatap pintu kamar kosan. Di Jakarta yang hanya terpisah 140an KM dari Bandung dan masih bisa pulang setiap minggu saja aku masih merasa rindu rumah. Apalagi yang di luar negeri ya? Salut.
Aku menyadari, rasanya bekerja untuk perusahaan ini memang enak. Sebuah comfort zone, yang bahkan ketika aku masih berusaha menyesuaikan diri, sudah empuk. Banyak pelajaran hidup yang aku dapatkan dan pelajari dari pengalamanku bekerja selama hampir sebelas bulan ini. Politik di kantor atau korporasi, berkenalan dengan orang-orang baru, menjaga penampilan dan perangai, bersikap disiplin serta mengelola waktu dan uang sendiri. Ini merupakan pengalaman pertamaku kerja di tempat yang serba disiplin. Masuk pukul 7 pagi, pulang pukul 5 sore. Kesulitan serta tantangan terbesarku adalah menyesuaikan jam dan pola tidurku yang masih sangat kental dengan pola tidur mahasiswa tingkat akhir. Kalong.
Sebuah pelatihan yang diberikan perusahaanku mengajarkanku mengenai seluk beluk menghasilkan minyak. Aku mensyukurinya. Kesempatan yang sangat langka. Tidak semua orang bisa tahu tentang ini. Lebih tepatnya, tidak semua orang, terutama orang yang berlatar belakang Teknik Informatika punya kesempatan sebagus ini. Memahami keseluruhan proses menghasilkan uang dari industri minyak, sejak tahap menemukan, menghasilkan, mengolah, dan menjualnya. Ketika aku tuliskan di sini, terkesan sangat sederhana dan singkat. Ini juga yang membuatku bersyukur bahwa aku dahulu menolak untuk bekerja pada SLB.
Bekerja pada perusahaan multinasional membawa keuntungan sendiri. Dengan kultur barat yang kental, peluang-peluang yang cukup terbuka lebar untuk menyerap banyak hal, serta menjadi *fresh graduate* membuatku mendapatkan kesempatan juga untuk menjaga booth perusahaanku pada jobfair yang baru saja diadakan minggu kedua Oktober 2011 kemarin di Sabuga. Dianggapnya aku masih dekat dengan lingkungan kampus, dan akan lebih mudah untuk berasimilasi. Jadilah aku menjaga booth perusahaanku dan menjelaskan lowongan kerja yang tersedia.
Satu hal yang menyadarkan aku sekali lagi, bahwa aku harusnya sangat lebih bersyukur akan keadaanku, atas hikmah Tuhan padaku, adalah pengalaman menjaga booth pada jobfair ini. Aku melihat kembali betapa sulitnya seseorang mencari kerja, betapa kerasnya usaha seseorang bahkan hanya untuk secarik kertas brosur, betapa panjangnya antrian para pencari kerja hanya untuk menuliskan namanya pada satu buah komputer demi satu kesempatan 10 menit untuk mendapatkan kerja. Aku melihat bagaimana seseorang yang tidak memiliki kesempatan yang adil untuk mendaftar pada perusahaan, bagaimana orang yang bahkan tidak memiliki kesempatan untuk unjuk gigi, bagaimana kekecewaan ketika mengetahui predikat indeks prestasinya tidak sebaik yang diinginkan para pencari pekerja. Aku bertatapan dengan orang yang dahulu melecehkan diriku dan menganggapku remeh ketika dia sekarang sedang berusaha menawarkan dua lembar CVnya sedangkan akulah yang menerima berkasnya dan dia tidak jadi memberikan berkasnya hanya karena rasa gengsinya mengalahkan kesempatan yang terbuka baginya. Aku bertatapan dengan orang yang bahkan dulunya enggan untuk menyapa diriku ketika kita sering berpapasan, dan sekarang dia hanya bisa melempar senyum sinis ketika dia mengambil brosur dari tanganku. Aku melihat betapa orang yang dulunya sangat sombong di sekolah, hanya bisa menatap aku dari kejauhan ketika dia sedang berdesakan dalam antrian yang sangat panjang untuk menginput namanya pada satu laptop di perusahaan consumer goods.
*Life is like a wheel. Sometimes you’re up, and without you knowing, you are already in the downside.*
Berteman itu punya banyak keuntungan. Aku bertemu dengan seorang teman SMA ketika dia juga sedang mencari pekerjaan, teman yang cukup dekat pada masa itu, aku pun tanpa ragu membagikan semua informasi dan pengalamanku ketika aku ada pada posisinya. Aku juga bertemu dengan teman sangat dekatku, ketua angkatan di jurusanku, dan aku berikan semua informasi yang aku punya, bahkan informasi yang harusnya mungkin aku tidak berikan, tapi tetap aku berikan padanya. Aku tidak berusaha untuk menyombongkan bahwa aku *generous* atau ada perasaan pamrih. **TIDAK**. Aku sangat senang berbagi. Itu saja.
Sampai di sini, aku harusnya sudah menutup blogpost yang panjang ini. Tapi aku bahkan belum menjelaskan apa yang kurasakan sudah menjadi pencapaianku selama satu tahun lebih aku diwisuda. Beberapa teman yang lain sudah banyak berkarya dan melanglang buana. Aku sendiri merasa belum pantas menjadi lulusan universitas gajah. Janjiku sebagai lulusan, almamater ITB adalah berkarya bagi bangsa. Sebuah buku hasil tulisan Pandji Pragiwaksono berjudul NASIONAL.IS.ME yang sedang kubaca pun seolah menamparku dan berusaha menyadarkanku, seolah menagih janjiku yang kuteriakkan dengan lantang di hari itu, Hari Sabtu, 23 Oktober 2010.. Pada saatnya, mungkin tidak lama lagi, akan kumulai apa yang sudah kujanjikan. Doakan aku. Satu-satunya 13506031.
Supeeerrr! Tutur katanya beda bgt gan dari Adri yang gw kenal. Haha. Really like this one
Sabar gan, I believe in 2 years time, at most, you’ll definitely be proud of yourself. And in that time I’ll probably be one of your interviewees:p
wow the jobfair section kinda emotional
teman2 aing kok epic2 ya